ALGIVON.ID — Associate Professor Marine Ecotourism Departemen Ilmu Kelautan FPIK Universitas Padjadjaran, Donny Juliandri Prihadi, S.Pi., M.Sc.,Ph.D., CBEc Tour, menekankan pentingnya pembangunan pariwisata laut berkelanjutan dalam sesi talkshow Marine Actions Expo (MAX) 2026 di Balai Kartini, Jakarta pada 2 April 2026.
Dalam paparannya, Donny mengajak peserta memikirkan masa depan sektor wisata bahari. “Apakah kita membangun pariwisata untuk hari ini, atau untuk lima puluh tahun ke depan?” ujarnya di hadapan ratusan peserta.
Ia menjelaskan, keberlanjutan pariwisata laut sangat bergantung pada tiga ekosistem pesisir utama, yakni mangrove, terumbu karang, dan padang lamun.
Menurutnya, mangrove mampu menyerap karbon lebih besar dibanding hutan daratan, terumbu karang dapat meredam energi gelombang laut hingga 97 persen, sedangkan padang lamun menyimpan karbon dalam sedimen jangka panjang.

Donny juga menyoroti perbedaan konsep ekowisata bahari dan blue tourism. Jika ekowisata lebih berfokus pada pengurangan dampak negatif wisata, blue tourism menempatkan pariwisata sebagai bagian dari solusi pemulihan ekosistem laut sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sebagai contoh penerapan blue tourism di Indonesia, ia menyebut Gili Matra di Lombok yang melarang plastik sekali pakai sejak 2019, Pemuteran di Bali dengan proyek restorasi terumbu karang berbasis masyarakat, serta Desa Wisata Mangrove Lembar di Lombok Barat yang berhasil merehabilitasi 400 hektare mangrove.
Menurut Donny, keberhasilan model blue tourism ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni kepemimpinan lokal yang kuat, adanya manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta pendampingan teknis yang berkelanjutan. (HS & RD/DJP).
BACA JUGA: GAS Luncurkan Program Bank Sampah “Beyond Waste” di TPS3R Desa Baros, Arjasari

