Jum. Apr 3rd, 2026

PT AKKU Tbk Gelar RUPS Tahun 2025, Perusahaan Jadikan Perhotelan Penopang Utama

Sesi Paparan Publik RUPS PT AKKU Tbk.

Bandung – Di akhir tahun ini, PT Anugerah Kagum Karya Utama (AKKU), Tbk sebagai perusahaan properti dan perhotelan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun 2025. Rapat tersebut diadakan di Hotel Golden Flower, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis (18/12/25).

Dalam RUPS tersebut, seluruh agenda perusahaan disetujui para pemegang saham. Tingkat persetujuan pemegang saham mencapai 99,9 persen, dengan hanya sebagian kecil suara yang menyatakan keberatan. Sekitar 60 persen pemegang saham hadir dalam rapat tersebut, baik secara langsung maupun melalui daring. Dengan demikian, laporan manajemen dan agenda rapat dinyatakan diterima.

Secara informasi keuangan perseroan mengalami tren negatif karena adanya penurunan pendapatan di tahun 2025. Pendapatan perseroan per 30 September 2025 mengalami penurunan dari semula sebesar 6,21 miliar pada September 2024 menjadi 5,26 miliar. Sehingga dalam RUPS tahun ini tidak ada pembagian deviden.

Selain dari keuangan, RUPS juga mengumumkan Susunan Pengurus Perseroan. Terdiri dari Dharmithea Kiemas Hamidy selaku Presiden Komisaris; Wihelmina selaku Komisaris Independen. Kemudian Irwan Suryadi selaku Presiden Direktur (Presdir) dan Heni Supartini selaku Direktur.

Penopang Utama

Dalam sesi paparan publik, Presdir PT AKKU Tbk Irwan Suryadi mengakui pertumbuhan bisnis, khususnya di sektor properti, masih belum dapat berjalan pesat, termasuk di Kota Bandung. Kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih serta minat konsumen yang masih terbatas. Hingga membuat perseroan memilih bersikap hati-hati dalam melakukan ekspansi.

Saat ini, perseroan masih mengandalkan perhotelan sebagai penopang utama bisnis usaha. Di tengah belum optimalnya sektor properti, perusahaan saat ini mengandalkan bisnis perhotelan sebagai penopang utama pendapatan. Hingga kini, total hotel yang dikelola perusahaan mencapai 21 unit yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Bandung.

Sementara di bidang properti, manajemen menjelaskan, minat konsumen terhadap properti hunian masih relatif rendah, sehingga arah bisnis sementara difokuskan ke sektor pariwisata dan perhotelan. Beberapa lokasi seperti Batam, Lampung, Cirebon, dan wilayah lain telah dikaji, namun belum seluruhnya memenuhi kriteria kelayakan investasi.

“Berdasarkan hasil feasibility study (FS), beberapa proyek memang belum terlihat visibilitasnya. Karena itu, kami belum bisa menjalankan pembangunan dan masih fokus pada perencanaan,” ungkap Irwan Suryadi di hadapan para jurnalis.

Hingga kini, perseroan memiliki dua proyek properti apartemen yang telah beroperasi secara solid. Yakni Apartemen Jardin Bandung dan Apartemen Grand Asia Afrika.

Agenda Strategis 2026

Menjawab pertanyaan media terkait strategi perusahaan ke depan, manajemen menyampaikan bahwa pada 2026 perusahaan akan memfokuskan pengembangan pada dua aset lahan utama yang telah PT AKKU, Tbk miliki.

Pertama, lahan di kawasan Setiabudi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Proyek ini sempat mengalami beberapa kali perubahan konsep. Rencana awal sebagai hunian, namun kini mengarah menjadi kawasan terpadu yang mencakup akomodasi apartemen premium dan hotel. Hingga destinasi wisata budaya, seperti gedung kesenian dan fasilitas pendidikan pariwisata. Saat ini perusahaan masih dalam tahap penyempurnaan konsep bersama konsultan dan penyusunan studi kelayakan lanjutan.

Kedua, proyek di Labuan Amuk, Bali, yang perencanaannya sebagai kawasan mixed-use berupa hotel, kondotel, dan apartemen. Namun hingga kini, proyek tersebut masih menunggu masuknya investor strategis. Meski sudah ada sejumlah pihak yang menunjukkan minat dan melakukan kajian awal, belum ada kerja sama yang benar-benar terealisasi.

“Prioritas utama dan terdekat tetap lahan di Lembang, kemudian Bali. Untuk daerah lain seperti Cirebon dan Lampung, masih tahap survei dan penjajakan,” tutur Presdir Irwan Suryadi.

Kinerja Perhotelan 

Dari sisi kinerja, perusahaan mengakui adanya penurunan pendapatan di sektor perhotelan pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi kebijakan pemerintah yang berdampak pada berkurangnya kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), terutama dari segmen pemerintahan.

“Penurunan pendapatan sekitar Rp1 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat hunian hotel juga mengalami sedikit penurunan, meski secara umum masih relatif stabil,” ujar Heni Supartini saat sesi paparan publik.

Okupansi hotel pada akhir pekan, rata-rata masih dapat mencapai 100 persen, sementara pada hari kerja berada di kisaran 40–60 persen. Bandung sendiri dinilai masih menjadi destinasi favorit wisatawan, terutama pada masa liburan.

Untuk menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta libur sekolah tahun ini, perusahaan telah menyiapkan berbagai program promosi perhotelan. Mulai dari paket menginap dengan harga khusus, paket liburan keluarga, hingga penawaran bertema Natal dan Tahun Baru.

Selain itu, perusahaan juga berupaya meningkatkan pendapatan di hari kerja dengan menyasar segmen korporasi dan memperkuat penjualan melalui platform online booking. Inovasi juga dilakukan melalui pengembangan produk makanan dan minuman (F&B). Termasuk penjualan paket katering dan produk khas yang dapat dipasarkan ke luar hotel.

“Kami tidak hanya mengandalkan kamar, tapi juga mengoptimalkan F&B dan paket wisata. Seperti tur keliling Bandung, untuk menarik pasar keluarga dan korporasi,” pungkas Heni.* (Ato)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *