Esai Satire: Harri Safiari (Seri “Mutiara Kata ala Korupsinikus”) #8
ALGIVON.ID — Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang tak pernah tidur, Korupsinikus bangkit lagi dari sisa sinyal dan algoritma. Kini ia punya misi baru: menaklukkan generasi paling canggih dan paling labil — Generasi Z, kaum yang hidup di antara quotes motivasi dan konten paid partnership.
Dengan gaya kekinian, Korupsinikus membuka kanal barunya:
“Korupsi Daily — Belajar Etika Tanpa Rasa Bersalah.”
Slogan resminya:
“Jujur itu opsional, asal tetap konsisten posting tiap hari.”
Dalam 24 jam pertama, akun itu langsung viral. Ribuan anak muda mengikuti karena katanya “humornya relate banget”.
Suatu hari, Korupsinikus diundang menjadi narasumber di podcast moral talk populer berjudul #SadarTapiSantai.
Host-nya — seorang influencer Gen Z dengan rambut tiga warna — membuka percakapan dengan semangat:
“Guru Korupsinikus, menurut Anda, apa arti moral di zaman penuh filter ini?”
Korupsinikus tersenyum lembut.
“Moral itu seperti filter juga, Nak. Bisa dipakai kalau mau tampil suci, bisa dilepas kalau mau jadi viral.”
Seketika kolom komentar meledak dengan emoji cenderung menyala tanpa batas.
Dalam sesi berikutnya, Korupsinikus memberikan kuliah mini bertajuk “Etika Klikbait dan Manajemen Dosa Digital.”
Ia menjelaskan dengan penuh kebijaksanaan kontemporer:
1.Jadilah Baik Secara Estetika.
“Tak penting kau jujur, asal caption-mu berisi kata ‘self-love’, netizen akan memaafkan semuanya.”
2.Gunakan Dosa Sebagai Konten.
“Kalau ketahuan salah, jangan panik. Ubah jadi serial konten ‘perjalanan tobat’. Tambahkan musik haru, viewers naik, moral aman.”
3. Jangan Lupa Kolaborasi dengan Kebenaran.
“Sesekali undang ustaz, aktivis, atau psikolog ke podcast-mu. Supaya dosa-mu punya konteks, penuh baluran suci.”
Setelah acara, Korupsinikus diwawancarai oleh media daring yang ingin tahu rahasia pengaruhnya di kalangan muda.
Ia menjawab tenang:
“Mereka tidak butuh kebenaran, hanya butuh sesuatu yang terasa benar di layar.”
Lalu ia menatap kamera dan menambahkan:
“Dan aku hanya menyesuaikan diri — dari batu jadi simbol, dari simbol jadi algoritma.”
Malam itu, di antara suara notifikasi yang bersahutan, Korupsinikus menulis status terakhirnya:
“Integritas tidak lagi diukur dari tindakan, tapi dari engagement rate.”
Dalam hitungan menit, status itu dibagikan jutaan kali.
Besok paginya, ia trending di seluruh platform dengan tagar:
#KorupsinikusForPresident
Dan para pengikutnya menulis di kolom komentar:
“Guru, ajari kami korupsi yang beretika.”
(Selesai).
BACA JUGA: Korupsinikus Pulang ke Negeri: Tafsir Akhir Zaman Integritas

