Rab. Apr 22nd, 2026

Danpussenif TNI AD Letjen Iwan Setiawan Apresiasi Kiprah Abah Landoeng ‘Menapak Satu Abad’ – Tak Semua Orang Bisa Memperoleh … 

ALGIVONID – Komandan Pussenif TNI AD Letnan Jenderal Iwan Seiawan, S.E., M.M., melakukan syukuran kepada salah satu sesepuh Jawa Barat, Abah Landoeng,” tepatnya kemarin pada 11 Juli 2025 lalu Abah Landoeng dengan segala kiprahnya, terhadap bangsa dan negara serta keluarga, telah menapak kini ke satu abad usianya.

Acara berlangsung di area lapangan tenis Kompleks Asrama Militer Pussenif Jl. Yudawastu Pramuka I No. IV Kota Bandung, pada Sabtu, 12 Juli 2025 pukul 14.00 WIB

Ini luar biasa buat rata-rata bangsa Indonesia. Hingga hari ini Abah Landoeng, masih bersama kita di sini,” ujarnya sambil memberikan apresiasi atas segala kiprahnya.

Masih kata Letjen Iwan Setiawan yang kembali mengapresiasi pencapaian Abah Landoeng di antaranya dalam hal Tanda Kehormatan Veteran (Tahorvet) dalam keterlibatan Abah Landoeng saat program Dwikora di Kalimantan Utara pada tahun 1960-an. “Tidak semua orang bisa memperoleh Tahorvet ini. Beruntung Abah telah memperolehnya pada 2024 ini,” terangnya.

Syukuran terhadap tokoh sesepuh Jawa Barat Abah Landoeng kelahiran Bandung, 11 Juli 1926 yang mengabdi sebagai guru di SMPN 2 & 5, SMAN 3 Kota Bandung (1959 – 1996), hari itu bertemakan ‘Menapak Satu Abad’, dihadiri antara lain oleh tokoh Jawa Barat Aditya Alamsyah yang akrab disapa Abah Alam, pebisnis kepariwisataan Kota Bandung dan Jawa Barat Henry Husada, serta beberapa tokoh lainnya dari berbagai komunitas di Kota Bandung.

“Kami dari paguyuban ‘Bandungariung’ yang biasa setiap Rabu malam mengadakan diskusi tentang Kota Bandung meliputi dinamika serta solusinya, kerap dibersamai oleh Abah Landoeng. Ini luar biasa untuk pria seusia ‘menapak satu abad’, relatif masih jagjag waringkas (sehat wal-afiat),” papar Silvia D Adriana yang hadir bersama beberapa rekannya.

 

Narasi Kiprah Abah Landoeng

Cukup menarik sejumlah kado berupa tanda mata trophy khusus dari Dan Pussennif TNI AD Iwan Setiawan sempat diberikan kepada Abah Landoeng yang diterimanya sambil didampingi istrinya Sani. Selanjutnya Abah Landoeng berkenan memberikan tanda mata kepada Iwan Setiawan sebuah buku terbitan dari Dutch Resistence Museum, berjudul The Former Dutch Colonies from World War Two to Independence (95 halaman).

Menurut Harri Safiari sebagai Ketua Panitia dari perhelatan ini dari pihak Jurnalis Bela Negara (JBN) Jawa Barat, menjelaskan buku ini berfungsi sebagai katalog bagi pengunjung Dutch Resistence Museum di Amsterdam, Belanda,” di sana ihwal Abah Landoeng betapa beruntung bisa lolos dari maut kerja paksa romusha saat pendudukan Jepang (1942 – 1945, juga bagaimana ia harus menghadapi aneka siksaan maut bila dianggap lalai dimata pengawas romusha Jepang.”

Masih dalam kesempatan ini, Harri Safiari selaku Pempinan Redaksi  Jurnalis Bela Negara ‘JBNMagz’ edisi khusus, yang terbit secara virtual dan fisik dalam format 16 halaman, dengan tajuk Danpussenif TNI AD Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M, Merayakan Abah Landoeng ‘Menapak Satu Abad’, memberikan beberapa eksemplar kepada Abah Landoeng dan Danpussenif TNI AD Iwan Setiawan,” terima kasih atas pemuatan saya di majalah ini bersama Abah Landoeng,” ujarnya.

Selain itu, hadir pula mantan wartawan majalah, Gatra Sulhan Syafi’I, yang kini bergiat pada lembaga TATALI News Corporation.  Ia berkenan memberikan buku masih tentang kehidupan Abah Landoeng berjudul ‘Landoeng Ngagoes Sampai Mekkah’ (kumpulan Cerita Abah Landoeng). “Buku ini terbitan 2024, saya persembahkan un dtuk Kang Iwan Setiawan Sang Letnan Jenderal Komandan Pussenif serta bagi ribuan  pasukannya. Dari buku ini semoga kita bisa belajar tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sekaligus,” ujarnya kepada redaksi sesaat setelah memberikan secara fisik buku setebal 77 halaman yang sarat tentang aneka dokumentasi khas milik Abah Landoeng.

Kepada redaksi, Sani istri Abah Landoeng yang didampingi kerabatnya Kang Adi, dalam beberapa tahun belakangan ini:”Abah mah alhamdulillah masih dijadikan nara sumber tentang suka duka berjuang di jaman sebelum kita merdeka. Juga ada yang suka bertanya tentang beberapa hal,  setelah kita merdeka di tahun 1945. Wartawannya, itu ada orang Belanda, Perancis, Jepang. Mereka suka datang bersama penerjemahnya,” kata Sani yang diamini Kang Adi.

Kepada redaksi, salah satu Pembina JBN Jawa Barat yakni Surya ‘Bakmi Parahyangan’ yang berhalangan hadir namun sempat mengirimkan karangan bunga, menyatakan ucapan selamat dan suka cita,”bukan hal yang mudah untuk menapak usia hingga satu abad yakni 100 tahun, selamat ya untuk pangan Abah Landoeng dan Bu Sani. Kepada Abah, terima kasih atas kiprahnya sebagai guru bangsa yang selalu memberi teladan hidup sederhana, namun selalu bermakna,” tutupnya di seberang telepon.

BACA JUGA: TV Belanda Ungkap Kisah Romusha, Abah Landoeng (99): Satu persatu gugur…

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *