ALGIVON.id – Pasangan Orangtua Siswa (Ortusis) Toto Suwarto dan Gina Meilany merasa lega. Atas undangan pihak sekolah keduanya berhasil mengambil ijazah atas nama putrinya SET, yang lulus pada Mei 2021 lalu. Mereka berdua akhirnya bisa mengambil Ijazah SET pada Jumat (26/1/2023) di SMA Negeri 16 Kota Bandung.
Sebelum berhasil ambil ijazah SMA anaknya, Toto dan Gina asal Pamulihan Kabupaten Sumedang Jawa Barat turut serta dalam aksi protes yang melibatkan puluhan ortusis yang ijazah putra putinya di tahan pihak sekolah. Aksi protes tersebut berlangsung pada 17 Januari 2024 lalu di depan Gedung Sate Kota Bandung. “Akibat belum ada ijazah, anak saya terhambat untuk mencari kerja setelah lulus sekolah,” ujar Toto dengan nada sedih kepada awak media ditengah aksi yang diinisiasi salah satu Caleg asal Kota Bandung.
Setelah aksi tersebut, keduanya dengan gigih menghubungi pihak SMA Negeri 16 Bandung. Pada akhirnya mere berdua berhasil menemui Eha Julaeha Kepala Sekolah SMA 16 Negeri Bandung. “Pertemuan hari ini banyak hikmahnya. Secara terbuka pula saya berikan ijazah atas nama putri bapak dan ibu yang bernama SET itu. Silahkan ambil dan manfaatkan sebaik-baiknya bagi ananda SET dan keluarga,” jelas Eha Julaeha seraya berkaca-kaca pada Jumat (26/1/2024) diruanganya.
Usai memberikan ijazah SET, Eha Julaeha menampik bahwa pihaknya tidak menahan Ijazah putri Toto dan Gina tersebut. Eha mengemukakan jika ia menjabat Kepala Sekolah SMA 16 Negeri Bandung sebelum peristiwa penahan ijazah SET terjadi.
“Pernah ada himbauan dari KaDisdik Jabar dan KCD/Cadisdik Wilayah VII, jangan ada penahanan ijazah di sekolah. Sebelum ada himbauan itu kami sudah melaksanakannya. Kebetulan ada beberapa foto sebagai bukti penyerahan ijazah. Kami bukan menahan tapi ada yang belum diambil dan belum datang ke sekolah, karena tidak membaca atau mendengar informasi,” papar Eha.

Data Penahanan Ijazah
Setelah menerima ijazah SET putrinya, Toto dan Gina mengucapkan terimakasih dan rasa syukur. “Ternyata ibu Eha Julaeha itu dimata saya sungguh berhati mulia. Saya segera khabarkan ke putri saya SET sekarang juga, pastilah ia gembira. Begitu juga kepada adiknya MA, berkat bantuan dari ibu Eha Julaeha pula, ijazahnya yang selama ini masih di SMP Muhamadiah 5, akhirnya kami bisa mengambil,” kata Gina seraya membasuh sedikit airmatanya.
Toto dan Gina sebelumnya tinggal di Kiaracondong Kota Bandung saat anak-anaknya bersekolah di SMAN 16 Bandung dan SMP Muhamadiyah 5 Kota Bandung. “Kata sayah mah ini, hikmah dari saya ikut demo itu di gedung sate. Ternyata Kepala Sekolah SMAN 16 Bu Eha itu berhati mulia. Bu Eha begitu mudah menyerahkan ijazah tersebut hari ini untuk anak saya. Begitu juga untuk sekedar menebus adiknya SET yakni MA, ada santunan dari Ibu Eha Julaeha, sungguh langsung bermanfaat,” papar Toto dengan menambahkan -“Hari Senin 29 Januari 2024 nanti tinggal MA dan kami datang ke SMP Muhamadiyah 5.
Adapun data per 17 Januari 2024, ada 414 sekolah yang masih menahan ijazah. Jumlah tersebut terdiri atas 41 Negeri dan 373 Swasta. Data tersebut memunculkan tahun kelulusan penahanan ijazah sejak 2002 hingga 2023. Penahanan ijazah ini terjadi di 13 Kota/Kabupaten dari 27 Kota/Kabupaten di Jabar. Urutan 4 terbanyak di antaranya Kota Bandung (281), Kabupaten Bandung (54), Kota Cimahi (44), Kabupaten Bandung Barat (20), serta sisanya dari total 414 sekolah ada yang 4, 3, 2, hingga masing-masing 1.
Dari data tersebut rata-rata nilai tunggakannya dari Rp 0 – Rp 4.999.000 ada 241 kasus (58%), Rp. 5.000.000 – Rp. 9.999.000 ada 121 kasus (29%), Rp. 10.000.000 – 14.999.000 ada 41 kasus (9,9%), dan sisanya yang menunggak di atas Rp 15.000.000 hingga di atas Rp. 20.000.000 ada 11 kasus (2,7%).
BACA JUGA: UNESCO Tetapkan Hari Lahir Malahayati 1 Januari sebagai Hari Perayaan Internasional

