Kerugian Menjadi Tuyul, Korupsinikus: Terkadang Ada Sisi Menguntungkan…
Esai Satire: Harri Safiari
ALGIVON.ID — Jangan menilai tuyul semata-mata dari penampilannya.
Tubuhnya kecil, kepalanya plontos, wajahnya tampak polos, dan konon pekerjaannya hanya satu: mengambil uang orang lain secara diam-diam. Gambaran tersebut telah lama melekat dalam imajinasi manusia selama berabad-abad.
Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, kehidupan tuyul tidak sesederhana itu.
Ada dinamika, ada sisi pahit, dan ada pula bentuk kesialan yang mungkin sulit dibayangkan manusia.
Seorang tuyul yang menjadi narasumber dalam investigasi ini telah bekerja selama 25 tahun—seperempat abad.
Jika ia manusia, ia mungkin sudah pensiun atau setidaknya menerima penghargaan sebagai “pegawai paling loyal”.
Namun, bagaimana dengan tuyul?
Bahkan penghargaan pun tidak ia miliki, dan nasibnya kerap tidak menentu.
Ketika ditanya apakah hidupnya sejahtera, ia terdiam cukup lama. Matanya menerawang.
“Sejahtera? Jauh dari itu,” ujarnya.
“Pendapatan memang meningkat, tetapi 65 persen dipotong oleh bos. Belum lagi biaya hidup, operasional, dan risiko tertangkap…”
Saya terdiam.
Ternyata tuyul juga mengenal potongan pendapatan.
Bedanya, manusia menyebutnya pajak atau cicilan. Tuyul menyebutnya “jatah bos”.
Sama-sama bekerja keras, sama-sama berada dalam keterbatasan. Hanya saja, tuyul tidak memiliki ruang untuk mengajukan kenaikan pendapatan.
Lebih jauh lagi, ia tidak dapat mengundurkan diri.
Bos membutuhkan tuyul, dan tuyul membutuhkan bos. Hubungan saling bergantung, meskipun tidak selalu saling menguntungkan.
Jika berhasil, bos menjadi kaya. Jika gagal, tuyul yang disalahkan. Jika tertangkap, tuyul yang pertama dicari.
Di sampingnya, Korupsinikus tersenyum.
“Jangan terburu-buru menghakimi tuyul. Mereka juga dapat dieksploitasi. Mereka memiliki target. Bahkan bisa saja menjadi pihak yang dieksploitasi.”
Saya bertanya, “Apa perbedaan sapi dan tuyul?”
“Kalau sapi diperah susunya, tuyul diperah hasil curiannya.”
Ia berhenti sejenak.
“Sapi masih makan rumput. Tuyul belum tentu.”
Tuyul mengangguk.
“Kami juga lelah. Setiap malam harus memasuki rumah orang, mencari uang, menghindari CCTV, kucing, dan pemilik rumah. Risikonya tinggi.”
Saya mulai merasa iba.
Ternyata tuyul memiliki deskripsi pekerjaan: target, risiko, potongan, tekanan, tanpa penghargaan.
Bahkan dalam urusan pribadi pun tidak mudah. Siapa yang akan berkata:
“Ini calon suami saya, pekerjaannya tuyul.”
Hal tersebut dapat menimbulkan perdebatan dalam keluarga.
Korupsinikus tertawa kecil.
“Intinya, jangan menilai dari tampilan. Mereka juga kompleks.”
Ia menatap saya.
“Bukankah manusia juga demikian?”
Saya terdiam.
Manusia pun kerap dinilai dari jabatan, harta, dan penampilan. Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui isi kehidupannya.
Yang tampak kaya bisa saja terlilit utang. Yang tampak bahagia bisa saja sedang berada dalam kehancuran.
Dan yang tampak seperti tuyul… mungkin justru korban dari sistem yang lebih besar.
Kesimpulannya sederhana:
Don’t judge a book by its cover.
Jangan menilai tuyul dari kepalanya yang plontos.
Di balik itu bisa terdapat penderitaan, potongan 65 persen, target, serta harapan untuk kehidupan yang lebih layak.
Mungkin ia tetap menjadi tuyul bukan karena kenyamanan, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain.
Korupsinikus tersenyum.
“Bahkan tuyul pun memiliki kelas pekerja.”
Ia berbisik:
“Bedanya, manusia memiliki serikat. Tuyul belum.”
Dan saya berpikir…
Mungkin suatu hari tuyul akan melakukan demonstrasi menuntut UMP, THR, BPJS, dan cuti.
Jika itu terjadi, sejarah mungkin akan mencatatnya sebagai:
Tuyul Bangkit, Bos Panik!
(Selesai).

