Rab. Apr 22nd, 2026

Bersama Ganjar Kurnia, Bincang Dibalik Lahirnya Mangle versi Unpad

ALGIVONIDBertempat di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung (20/5/2025), Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita, disertai Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, akhirnya meresmikan penerbitan majalah berbahasa Sunda “Manglé” versi baru.

Nah, disela-sela usai peresmian ini sejumlah pegiat media secara bersama-sama sempat berdialog dengan Ganjar Kurnia. Inilah cuplikannya …

Menurut Ganjar Kurnia selaku Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad sebagian besar redaktur Majalah Budaya Sunda Mangle versi baru ini berasal dari Mangle yang lama, juga.

“Kebetulan ya ditangani anak-anak sini juga (Unpad). Contohnya, ada Teddi Muhtadin, Pemimpin Redaksi, kan ia dosen unpad. Kemudian.”ada Dian Hendrayana, juga itu alumni Unpad. Ada Taufik Rahayu, lalu ada Riki. Semuanya, hanya hanya pindah tempat atau atap saja,” ujarnya disertai senyum dan tawa yang hangat.

Bukan Sekedar Dinamika, Ada SundaDigi

Disadari oleh Ganjar dan rekan-rekannya terbitnya Mangle versi ‘baru atau Unpad’ ini haruslah tak hanya sekedar dinamika perubahan budaya belaka yang instan. “Justru sekecil apapun kami kan sudah membuat SundaDigi. Ia sekarang sudah di-klik sekitar 120-an juta yang menyebar di seluruh negara, itulah kita lakukan saja,” paparnya.

Dijelaskan oleh Ganjar Kurnia, saat ini anak-anak SD kalau punya PR, “kan nanya ke orang tuanya yang kelahiran tahun70-an dan 80-an, mereka tak begitu paham, lalu nanya lagi ke kakeknya sama juga,” lagi ujarnya.

“Makanya, sekarang nanyanya ke SundaDigi. Karena di SudaDigi itu ada fitur khusus, mengenai tanya PR, kemudian naskah-naskah lama dan dan sebagainya. Mereka anak-anak itu bisa cari, itu yangkita lakukan,” jelas Ganjar Kurnia yang dikenal akrab dengan para pewarta.

SundaDigi dibentuk karena,”alasan melakukan berbagai seminar terus-terusan ya mahal dan cape juga, jadi biarlah walaupun kecil ya harus kita lakukan,”paparnya.

Rencana Ke Depan, Adakah? 

Ganjar Kurnia ditanya apa rencana besar ke depan dari terbitnya Mangle versi Unpad? “Sementara ini mah kita selamatkan saja dulu, sambil program jangka pendeknya kita selesaikan. Kami ini tidak berorientasi profit ya? Bulan ini, hanya (terbit) 1.500 eksemplar (@ Rp. 25 ribu, BW/setebal 74 hal, ukuran 25 cm X 17 cm). Ini, supaya bisa hidup saja dulu. Soal pendekatan ke sekolah-sekolah nantilah akan kita bocarakan. Kalau misalnya diwajibkan , wah eta mah susah euy… dijaman kiwari,” paparnya sambil tertawa renyah.

Professor. Ganjar Kurnia bersama awake media di sela-sela peluncuran Majalah Mangle versi Unpad pada Selasa (20/5/2025). (Foto: Harri Safiari)

Ada pewarta yang iseng bertanya,”kalau ke Kang Dedi (Mulyadi/KDM) Gubernur Jawa Barat kumaha?” Ganjar Kurnia spontan menjawab,”teu acan tepang euy…” ujarnya. Lebih lanjut kata Ganjar Kurnia, secara normatif Pak KDM tentu diundang, namun ujarnya:”Tetapi, kan saya secara pribadi susahlah kalau bikin proposal…Harapannya sih surti sajalah … (rela membantu)…”, jelasnya dengan nada datar namun seakan penuh harap.

Masih kata Ganjar Kurnia, terkait himbauan bagi para pejabat dan lainnya, “kalau memang punya perhatian… ya silahkanlah berbagi dengan kami bantulah demi kemekaran budaya Sunda. Namun demikian tak dibantu juga, kami akan terus berkiprah. Oleh siapa lagi, bila tak oleh, kita-kita lagi.”

CSR Adakah ? 

Seakan ada pewarta yang menelisik Ganjar Kurnia, Ide pertama menjadikan lahirnya Mangle versi Unpad yang baru?

Menurut Ganjar Kurnia, pihak Mangle memang datang berkali-kali menghubunginya, “mereka mengutarakan secara terbuka kondisinya, setelah itu dengan berbagai pertimbangan matang, sudahlah kita kelola oleh Unpad, laporlah ke Rektor, ke Rektor Unpad. Singkatnya, Rektor setuju…membantu dan bekerjasama”

Sempat Ganjar Kurnia, mengumpamakan dalam penyelamatan majalah Sunda Mangle yang ‘sekarat’ ini, kumaha atuh lamun Mangle Maot, padahal ini lahir sejak 1957. Kalau mati ya dimonumenkan …tidak mati… ya jadi semacam artefak. Artinya, di tatar Sunda pernah ada majalah Mangle, terangnya yang disahut ketawa miris dari para pewarta.

Namun, Ganjar Kurnia merasa bangga, bahwa bersama tim-nya, “di saya ada majalah sejak 1920-an kalau dia mati kita monumenkan, tetapi kita sudah digitalkan, seperti dokumen 1920 dari Pusaka Sunda, majalah Warga kesininya ada Majalah Siapatahunan, semua sudah kita digitalkan.”

Kembali ke penyelamatan Mangle, “kami telah sebagian menyelamatkan kekayaan budaya, berbicara soal Mangle, saat ini masih kita kembangkan,” paparnya dengan senyum penuh optimis.

Strategi marketing, kumaha?

Ganjar Kurnia ditanya, adakah strategi marketing khusus untuk Mangle ini? “Kalau saya mah yakin akan menjadi majalah bacaan, itu kan masih perlu ya? Khusus di luar digital mah yang hard copy” ujarnya.

Dicontohkan, dirinya setiap pagi membaca satu koran, hanya sebentar dan tamat. “Rasanya, dengan hard copy lebih meresap dan lebih dimengerti. Ya di Eropa juga banyak yang kembali ke semula tetapi ini hipotesa saya ya? Kita kan lebih senang memegang bukunya, daripada membaca isinya…

Optimisme Ganjar Kurnia, bahwa orang secara bertahap dan pasti, kembali merindukan bahan bacaan hard copy,“sudah ada beberapa pihak yang menghubunginya untuk menghimbau secara bertahap kembali membaca seperti dulu,” pungkasnya sambil menambahkan – “Membaca narasi secara non virtual seperti produk buku dan majalah, itu ternyata lebih berasa dan lebih bermakna.” (HS/GK).

BACA JUGA: Rektor & Pusat Budaya Sunda Unpad Resmikan Mangle Versi Baru, Ganjar Kurnia: Amanat Statuta …

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *