ALGIVON.ID — Kematian dua anak harimau Benggala, Hara dan Huru, di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) pada 24 dan 26 Maret 2026 akibat infeksi virus menuai keprihatinan dari berbagai pihak.
Koordinator PEWARIS (Penjaga Warisan Sunda), Rully Alfiady, yang selama 11 bulan terakhir aktif mengawal isu pelestarian sejarah dan budaya Kebun Binatang Bandung di tengah konflik pengelolaan, menyampaikan sejumlah pernyataan:
Pertama, pihaknya menyatakan keprihatinan dan penyesalan atas kematian dua anak harimau tersebut. Satwa tersebut merupakan bagian dari tujuh satwa langka yang lahir selama masa konflik pengelolaan berlangsung.
Peristiwa ini diharapkan menjadi pembelajaran bagi semua pihak bahwa pengelolaan aset konservasi memerlukan keahlian serta perhatian serius dan berkelanjutan.
Kedua, tanpa mengabaikan kejadian tersebut, PEWARIS meminta Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Jawa Barat yang saat ini bertanggung jawab atas pengelolaan, agar tetap fokus melanjutkan agenda besar penyelamatan Kebun Binatang Bandung. Agenda tersebut merupakan hasil kesepakatan antara pemerintah kota, masyarakat, karyawan, dan ahli waris Ema Bratakoesumah.
Ketiga, Rully menyampaikan apresiasi kepada sejumlah tokoh dan pejabat yang telah memberikan perhatian, di antaranya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Ketua DPRD Jawa Barat, serta tokoh masyarakat seperti Ono Surono, Ahmad Heryawan, dan Agun Gunanjar.
Mereka dinilai telah berkontribusi dalam mendorong percepatan kejelasan komitmen penyelamatan satwa, karyawan, dan ekosistem Kebun Binatang Bandung. Upaya tersebut diharapkan menjadi energi baru bagi masyarakat dalam menjaga kebun binatang sebagai warisan sejarah dan budaya yang telah berusia 93 tahun.
Keempat, PEWARIS mengajak masyarakat Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia untuk turut mengawasi dan menjaga proses penyelamatan Kebun Binatang Bandung agar ke depan dapat dikelola secara profesional dan berkeadaban.
Sejalan dengan itu, Andri P. Kantaprawira, Pegiat Lingkungan dan Budayawan, menegaskan bahwa kematian dua anak harimau Benggala tidak boleh mengganggu agenda besar penyelamatan Kebun Binatang Bandung.
Ia menekankan pentingnya pelaksanaan solusi konkret yang tidak ditunda dan tetap mengacu pada peraturan serta prinsip tata kelola yang baik.
Sementara itu, Apipudin, tokoh WALHI kultural, menyatakan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi pengelola dan pegiat lingkungan.
Ia juga mendesak Pemerintah Kota Bandung untuk segera mempercepat realisasi kesepakatan bersama terkait pengelolaan Kebun Binatang Bandung.
Menutup pernyataannya, Rully Alfiady berharap polemik dan konflik yang terjadi dalam pengelolaan Kebun Binatang Bandung dapat segera menemukan solusi yang adil dan bermartabat.
(HS & RD/Rls)
BACA JUGA: Ratusan Satwa Kebun Binatang Bandung Bertahan Berharap dari Donasi Publik

