Esai Satire: Harri Safiari (Serial “Mutiara Kata ala Korupsinikus”) #7
ALGIVON.ID — Setelah tur keliling dunia dan mendapat gelar The Prophet of Practical Corruption, Korupsinikus akhirnya pulang ke tanah kelahirannya — Negeri Konoha Raya (NKR).
Kedatangannya disambut meriah di bandara internasional yang belum selesai dibangun sejak sepuluh tahun lalu.
Di gerbang kedatangan, spanduk besar terpampang:
“Selamat Datang, Sang Guru Etika Fleksibel.”
Para pejabat berjejer rapi, wajahnya sumringah tapi tangannya sibuk memastikan kamera menyorot dari sudut terbaik.
Dalam konferensi persnya, Korupsinikus berbicara lembut namun tajam:
“Saya terharu… Negeri ini masih sama seperti dulu — jujur dalam kebohongan, bersih dalam pencitraan, dan stabil dalam ketidaktertiban.”
Wartawan serentak menunduk, tak jelas apakah sedang menulis atau menahan tawa, atau malahan sinyal sedang lemot!.
Beberapa hari kemudian, Korupsinikus diundang ke acara televisi nasional bertema “Revolusi Integritas Jilid Akhir.”
Di sana, ia duduk di antara para influencer moral, politisi senior, dan seorang selebritas yang baru saja ditunjuk jadi duta antikorupsi setelah bebas dari kasus pajak.
Ketika pembawa acara bertanya, “Apa makna integritas di era modern?”
Korupsinikus menjawab dengan wajah penuh cahaya:
“Integritas itu seperti kata cinta — sering diucapkan, jarang dilakukan, tapi selalu laku dijual.”
Studio mendadak hening, lalu bergemuruh oleh tepuk tangan penonton bayaran.
Di tengah perjalanan pulang dari acara itu, Korupsinikus melewati gedung pemerintahan yang dikelilingi baliho bertuliskan “Transparansi Adalah Kekuatan Kami.”
Ia berhenti sejenak, menatap gedung itu, lalu tersenyum getir.
“Lihatlah,” gumamnya, “mereka telah belajar dengan sempurna. Kini semua orang mengaku bersih, bahkan tanpa pernah mandi sekalipun.”
Ia kemudian menulis di jurnalnya — kitab suci baru berjudul “Kitab Korupsinatul: Tafsir Akhir Zaman Integritas.”
Isinya bukan hukum, bukan doktrin, melainkan renungan ironis bagi bangsa yang sudah terlalu pandai menyamarkan dosa dengan slogan.
“Ketika kebenaran dikemas seperti produk, dan kejujuran dijual dalam paket promosi, saat itulah akhir zaman integritas benar-benar tiba.”
Malam itu, Korupsinikus kembali ke pantai tempat dulu iasekali waktu dikutuk menjadi batu. Ia duduk menatap laut yang memantulkan cahaya kota — cahaya yang indah tapi berbau listrik subsidi.
Ia tersenyum dan berbisik pada dirinya sendiri:
“Mungkin, akhirnya aku tak perlu jadi batu lagi. Karena kini, seluruh bangsa telah menjadi batu — tak bergerak, tak malu, dan tetap bersinar di bawah lampu sorot.”
Ombak datang perlahan, membasuh jejaknya.
Esoknya, konon, patung Korupsinikus kembali muncul di museum. Tapi kali ini, dengan papan bertuliskan:
“Legenda Hidup — Disponsori oleh Program Etika Nasional 2051.”
(Selesai).
BACA JUGA:
Korupsinikus di Panggung Dunia: Konferensi Global Antikorupsi

