Esai Satire: Harri Safiari (serial “Mutiara Kata ala Korupsinikus”) #6
ALGIVON.ID — Hadirlah, wahai Korupsinatul Korupsinikus, ke haribaan surgawi tata kelola global! Dunia kini memanggilmu bukan sebagai tersangka, tapi sebagai pembicara kunci dalam World Integrity Summit 2050, konferensi megah yang diselenggarakan di Hotel Paradise & Casino, negara Tropislandia.
Di layar lebar, terpampang tema acara:
“Clean Governance for a Brighter Tomorrow.”
Sementara di luar ruangan, antrean limusin pejabat membentuk labirin yang lebih panjang dari laporan keuangan mereka.
Korupsinikus melangkah ke podium, disambut tepuk tangan para delegasi dunia yang bersetelan mewah. Di barisan depan, duduk para “pejuang antikorupsi” internasional — yang konon baru saja menandatangani proyek audit transparansi senilai miliaran dolar.
“Saudara-saudara sekalian,” ujar Korupsinikus dengan nada surgawi, “saya datang dari negeri yang sudah mencapai tingkat integritas tertinggi — karena semua yang tidak jujur sudah dianggap lumrah alias biasa.”
Tawa sopan terdengar, lalu tepuk tangan membahana. Moderator berkata pelan:
“Sungguh inspiratif.”
Korupsinikus lalu menampilkan presentasi visual bertajuk “Korupsi Sebagai Budaya Inovatif”.
Slide pertama menampilkan grafik penuh warna dengan kutipan legendaris:
“Di mana ada uang rakyat, di situ ada peluang kreatif.”
Ia menjelaskan dengan percaya diri:
“Korupsi kini bukan sekadar kejahatan, tapi bagian dari ekosistem ekonomi. Tanpanya, banyak sektor tak akan bergerak. Ini bukan pembenaran, ini pengakuan ilmiah.”
Delegasi dari beberapa negara bertepuk tangan penuh pengertian.
Di sesi diskusi, seorang peserta dari negara Skandinavia bertanya serius:
“Tuan Korupsinikus, bagaimana Anda menyeimbangkan antara etika dan kepentingan politik?”
Korupsinikus tersenyum damai, lalu menjawab:
“Etika itu relatif, tergantung siapa yang menulis laporan akhirnya.”
Ruangan hening sejenak — lalu kembali bergemuruh oleh tawa dan tepuk tangan.
Puncak acara tiba ketika Korupsinikus dianugerahi “Lifetime Achievement Award for Moral Flexibility.”
Sambil menerima trofi berbentuk amplop emas, ia berkata dengan rendah hati:
“Terima kasih atas penghargaan ini. Saya dedikasikan untuk seluruh koruptor yang gagal tertangkap, karena tanpa mereka, dunia takkan punya alasan untuk membentuk lembaga antikorupsi.”
Sorak-sorai bergema. Kamera menyorot wajah-wajah yang tertawa, lalu perlahan membeku di balik topeng diplomasi.
Menjelang penutupan, Korupsinikus menatap langit-langit ballroom dan berbisik lirih:
“Sungguh surgawi dunia ini — di mana dosa bisa dikemas jadi donasi, dan korupsi bisa naik kelas jadi konferensi bergengsi.”
Langit pun tertawa pelan, menaburkan cahaya keemasan di wajah mereka yang terus bersumpah suci… denga
n tangan yang masih menandatangani proyek baru. (Selesai).
BACA JUGA: Korupsinikus dan Revolusi Moral: Dari Batu Jadi Buzzer

