Sen. Jun 22nd, 2026

Ketua HNSI Pangandaran Sebut Kata ‘Bodoh’ Tidak Ditujukan ke Institusi Unpad, Eka Santosa: Lalu ke Siapa?

ALGIVON.ID – Polemik soal penempatan Keramba Jaring Apung (KJA) di Pantai Timur Pangandaran, juga terkait riset benih bening lobster (BBL) kembali mencuat dalam pertemuan yang digelar di Kampus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, pada 20 Agustus 2025.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran Jeje Wiradinata, Ketua DPRD Pangandaran Asep Noordin, Kadis Perikanan Pangandaran, serta perwakilan pegiat pariwisata. Dari pihak Unpad hadir Dekan FPIK Prof. Dr.sc.agr Yudi Nurul Ihsan, Wakil Dekan FPIK Prof. Dr. Ir. Rita Rostika MP, serta sejumlah alumni dan pegiat perikanan, termasuk tokoh masyarakat Jawa Barat Eka Santosa.

Jeje Wiriadinata, Ketua HNSI Pangandaran. Jeje juga mantan Bupati Pangandaran
Polemik Ucapan “Bodoh”

Salah satu yang menjadi sorotan adalah pernyataan Susi Pudjiastuti dalam sebuah diskusi di Pangandaran pada 6 Agustus 2025. Saat itu, Susi menyinggung pendapat dosen Unpad mengenai bibit lobster yang akan mati percuma bila tidak ditangkap, dan menyebutnya sebagai “bodoh”.

Budi Hermansyah yang akrab disapa Buher, Wakil Ketua IKA Unpad, menilai pernyataan itu tidak pantas diucapkan oleh seorang mantan pejabat negara. “Kami melihat tidak layaklah, apalagi Unpad sudah sejak lama berkiprah di dunia riset perikanan,” ujarnya.

Namun, Jeje Wiradinata menimpali bahwa ucapan Susi tidak menyerang institusi Unpad, melainkan ditujukan kepada Rita Rostika. Pernyataan ini justru memicu perdebatan lebih lanjut dalam forum.

Tidak Elok Menyebut “Bodong” atau “Gila”

Diskusi sempat memanas namun berangsur reda setelah Dekan FPIK Unpad, Yudi Nurul Ihsan, menjelaskan tentang teori sink population yang menjelaskan fenomena kematian alami pada benih lobster. Meski begitu, pihak Jeje dan Asep Noordin tidak sepakat dengan pandangan tersebut.

Imam Kadarisman, Ketua Komisi Barramundi Nasional, justru mengapresiasi riset Unpad dan menekankan pentingnya kemandirian dalam pembesaran lobster di dalam negeri. Ia berharap dunia riset perikanan tidak lagi dicederai dengan sebutan “bodong” atau kata-kata yang dianggap tidak elok.

Eka Santosa: “Pernyataan Aneh”

Di sisi lain, Eka Santosa menyatakan bahwa hasil pertemuan cukup positif, terutama terkait rencana luasan Keramba Jaring Apung (KJA) di Pantai Timur Pangandaran. Ia menilai kegiatan riset, nelayan, dan pariwisata harus berjalan beriringan.

Namun, menanggapi pernyataan Jeje bahwa ucapan Susi ditujukan ke “pribadi” Rita, bukan institusi Unpad, Eka menilai hal itu aneh. “Siapa pun akan sulit memahami. Jangan-jangan…,” ujarnya sambil meninggalkan tanda tanya.

Terpisah, Dekan FPIK Unpad Yudi Nurul Ihsan menegaskan bahwa kehadiran Rita Rostika di Pangandaran bukan sebagai individu, melainkan mewakili Unpad dalam kapasitasnya sebagai Wakil Dekan sekaligus penanggung jawab riset lobster. (RD)

BACA JUGA: KJA Budidaya Lobster di Pangandaran Sepakati Luasan 2.000 M2, Kegiatan Wisata Jalan Terus  

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *