ALGIVON.ID – Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat kali ini memilih merayakan HUT ke-67 dengan cara sederhana namun sarat makna: ya, mempertemukan sejarah, pengabdian, dan harapan untuk masa depan.
Peringatan digelar di Lapangan Kijang Cakti, Yonkav 4/Kijang Cakti, Kota Bandung, Sabtu (13/6/2026). Momen ini terasa istimewa karena dihadiri anggota aktif, alumni lintas generasi, serta Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., yang bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Barang tentu kehadiran Pangdam III/Siliwangi menjadi simbol bahwa Menwa Mahawarman tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan bangsa. Dari Bandung inilah sejarah Resimen Mahasiswa Indonesia bermula.
Mahawarman bukan sekadar organisasi kampus, melainkan rahim yang melahirkan gerakan Menwa yang kemudian berkembang ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Pantauan redaksi, suasana HUT kali ini seperti reuni keluarga besar. Para senior yang puluhan tahun lalu ditempa disiplin dan pengabdian kembali berkumpul. Di antaranya hadir Ir. Budiono Kartohadiprodjo dan Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang pernah menjabat Kepala Staf Resimen Mahasiswa Mahawarman.
Mereka datang bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi menyaksikan nilai-nilai yang dulu ditanamkan masih hidup di generasi penerus. Bukti bahwa Mahawarman tidak hanya melahirkan anggota Menwa, tapi juga pemimpin, akademisi, birokrat, profesional, dan tokoh masyarakat yang berkiprah di berbagai bidang.


Teladan Bela Negara
Dalam amanatnya, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., mengingatkan agar Menwa tidak terlena oleh kebesaran sejarah. Sebagai cikal bakal Resimen Mahasiswa Indonesia, Mahawarman harus terus memperkuat kaderisasi, meningkatkan kualitas SDM, serta menjadi teladan implementasi nilai-nilai bela negara di tengah masyarakat.
Pesan itu menjadi tantangan sekaligus motivasi. Tantangan bangsa ke depan tidak hanya butuh generasi cerdas, tetapi juga berkarakter, berjiwa kepemimpinan, berintegritas, dan peduli sosial.

Siap Jadi Agen Perubahan
Komandan Menwa Mahawarman Jabar Ali Budiman menegaskan, usia 67 tahun harus jadi momentum memperkuat peran Menwa di masyarakat. Menwa tidak boleh hanya jadi penjaga sejarah, tapi harus jadi bagian solusi atas persoalan bangsa.
“Menwa siap menjadi agen perubahan dan memajukan NKRI bersama elemen bangsa lainnya. Semangat pengabdian yang jadi jati diri Mahawarman harus terus diwujudkan dalam aksi nyata untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Ali.
Komitmen itu diwujudkan lewat bakti sosial. Bantuan kebutuhan pokok disalurkan ke sejumlah pesantren dan yayasan sosial di Bandung dan sekitarnya. Langkah ini menjadi simbol bahwa bela negara tidak hanya lewat disiplin dan latihan, tapi juga kepedulian pada sesama.

Titik Berangkat, Bukan Garis Akhir
Di usia ke-67, Menwa Mahawarman ingin mengirim pesan lebih besar dari sekadar perayaan. Organisasi yang lahir puluhan tahun lalu ini tidak hidup dari romantisme sejarah. Mahawarman sedang menyiapkan generasi baru yang siap menjawab tantangan zaman, menjaga persatuan, dan berkontribusi pada pembangunan Indonesia.
Bagi Mahawarman, 67 tahun bukanlah garis akhir. Ia adalah titik berangkat untuk terus bergerak, beradaptasi, dan mengabdi. Selama Indonesia masih butuh anak muda yang peduli pada bangsanya, semangat Mahawarman akan selalu punya alasan untuk hidup. (HS & HRS)

