Sel. Jun 16th, 2026

Sarah Tsunami Sejenak Pulang ke Pangandaran, Eka Santosa: Temui Orang Tuamu, Mintalah Doa…

ALGIVON.IDPerpisahan sementara antara Eka Santosa (66) dengan anak angkatnya, Sarah Tsunami (19), pada Jumat malam (12/9/2025) di Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Kabupaten Bandung, berlangsung penuh haru. Keduanya bertemu sejak Selasa malam (9/9/2025) dan kini harus berpisah, meski hanya untuk sementara waktu.

“Ya, Sarah pulang dulu ke Pangandaran. Segera temui orang tuamu, mintalah doa. Yang terpenting, mata Sarah sudah diperiksa di RS Mata Cicendo (10/9/2025).

Pertimbangkan dengan matang apakah akan mengikuti saran dokter untuk operasi tanam lensa agar penglihatan lebih baik. Lalu, secara khusus, Sarah juga sudah diterima kuliah di Unpad dengan beasiswa mulai tahun ajaran 2026/2027.

Bahkan, Kamis lalu (11/9/2025), ia diterima langsung oleh Rektor Unpad didampingi Dekan FPIK Unpad,” ujar Eka Santosa kepada redaksi di kediamannya.

Malam itu, Sarah yang didampingi Anda Suteja, mantan Kepala Dusun Golempang, Desa Parigi, Pangandaran, ikut menumpang rombongan keluarga yang pulang ke Pangandaran.

Eka menambahkan, “Di luar dugaan, Sarah yang baru kembali bertemu setelah lama terputus komunikasi akibat pandemi COVID-19, kini sudah lulus dari SMKN 2 Pangandaran. Segera pula akan didirikan Yayasan Sarah Tsunami di Pangandaran.”

Sarah sendiri menyampaikan rasa syukurnya selama berada di Pasir Impun sejak Selasa hingga Jumat malam.
“Terima kasih kepada para pendamping, juga bapak angkat saya, Pak Eka Santosa, dan keluarga. Tentang rencana mendirikan yayasan, saya sangat setuju.

Nantinya, yayasan ini akan membantu generasi muda seusia saya agar lebih mandiri. Selain itu, akan ada pula upaya perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutur Sarah.

Sarah Tsunami (19) membelakangi lensa kamera didampingi Eka Santosa diterima secara khusus oleh Rektor Unpad Prof. dr Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Sp.M (K)., M.M., M.Kes., Ph.D., didampingi Dekan FPIK Unpad Prof. Dr. sc. agr. Yudi Nurul Ihsan, seusai acara Dies Natalis Unpad ke-68 di Kampus Unpad Dipatiukur, Kota Bandung (11/9/2025).

 

Siapa Sarah Tsunami?

Kisah hidup Sarah berawal dari tragedi tsunami yang melanda Pangandaran pada Senin, 17 Juli 2006, pukul 16.00 WIB. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bencana tersebut menewaskan atau membuat hilang 668 orang, sementara 9.229 orang lainnya luka-luka. Dari peristiwa dahsyat itu, seorang bayi berusia satu hari yang kemudian dikenal sebagai “Bayi Ajaib” selamat. Bayi itu adalah Sarah Tsunami.

Sarah lahir pada 16 Juli 2006 pukul 10.20 WIB dari pasangan Utan dan Juarsih di Dusun Golempang, Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Ciamis (kini Kabupaten Pangandaran). Sang ibu, Juarsih, yang tunanetra, melahirkannya dengan bantuan seorang paraji.

Namun, hanya 30 jam setelah lahir, rumah keluarga kecil ini tersapu gelombang tsunami setinggi 5–10 meter akibat gempa 7,7 skala Richter. Sarah terlepas dari gendongan ibunya dan hanyut terbawa arus. Ajaibnya, ia ditemukan sekitar 500 meter dari rumah dalam keadaan hidup, tubuhnya penuh pasir dan tergeletak di antara tumpukan sampah dedaunan serta ranting pohon, yang dalam bahasa Sunda disebut “sarah”.

Dua hari setelah bencana, pada 18 Juli 2006, rombongan Komisi II DPR RI yang dipimpin Eka Santosa mendatangi lokasi. Saat itulah Eka mengangkat bayi tersebut sebagai anak angkat dan memberinya nama belakang “Tsunami”.

“Ini semata kebesaran Tuhan. Dari sekian banyak korban, ada satu bayi yang diberi kehidupan baru. Saya merasa terpanggil untuk ikut membantunya,” kata Eka Santosa dalam berbagai kesempatan.(Harri Safiari & Rivansyah Dunda)

BACA JUGA: Bertemu Lagi Sarah Tsunami dan Eka Santosa, Usai 2 Dekade Bencana Pangandaran 2006  

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *