Oleh: Fittrie Meyllianawaty Pratiwy, Ph.D.
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
ALGIVON.ID – Perairan yang selama ini kita anggap sebagai sumber kehidupan kini menghadapi ancaman yang semakin sulit terlihat oleh mata telanjang. Jika dahulu pencemaran identik dengan limbah besar yang menghitamkan sungai atau tumpahan minyak yang mencemari laut, kini ancaman hadir dalam bentuk yang jauh lebih kecil: mikroplastik.

Partikel plastik berukuran mikrometer ini tidak terlihat secara kasat mata, namun dampaknya terhadap organisme perairan berpotensi sangat besar. Ironisnya, ancaman ini berkembang seiring dengan kemajuan peradaban manusia yang semakin bergantung pada plastik sebagai material praktis dan murah.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan produksi perikanan dan akuakultur yang besar tidak dapat menutup mata terhadap persoalan ini.
Industri perikanan, baik tangkap maupun budidaya, sangat bergantung pada kualitas lingkungan perairan. Ketika lingkungan tersebut mulai terkontaminasi oleh mikroplastik, dampaknya tidak hanya berhenti pada organisme air, tetapi juga merambat pada keamanan pangan, ekonomi masyarakat pesisir, serta keberlanjutan produksi perikanan nasional.
Di sinilah sains memainkan peran penting. Para peneliti di berbagai negara kini berupaya memahami bagaimana mikroplastik memengaruhi organisme perairan pada level yang paling dasar.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah memanfaatkan organisme model, seperti ikan zebrafish atau Danio rerio. Meski bukan ikan konsumsi, zebrafish memiliki banyak kesamaan fisiologis dengan ikan budidaya, sehingga menjadi model penting untuk memahami mekanisme biologis yang relevan bagi akuakultur.
Zebrafish menjadi organisme model karena beberapa alasan ilmiah yang kuat. Larvanya transparan sehingga perkembangan organ dapat diamati secara langsung. Pertumbuhannya cepat, mudah dipelihara, dan memiliki sistem genetik yang sudah sangat dipahami.
Lebih jauh lagi, perilaku berenang larva zebrafish dapat diukur secara kuantitatif menggunakan teknologi pencitraan modern, memungkinkan ilmuwan mendeteksi perubahan perilaku akibat paparan lingkungan sebelum muncul dampak yang lebih serius.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan mikroplastik, bahkan dalam ukuran nano, dapat mengubah perilaku berenang larva ikan.
Aktivitas berenang menjadi lebih rendah, eksplorasi lingkungan berkurang, dan respons terhadap rangsangan berubah. Perubahan perilaku ini penting karena pada fase awal kehidupan, kemampuan berenang menentukan kemampuan ikan mencari makanan dan menghindari predator. Jika kemampuan tersebut terganggu, peluang hidup ikan di alam akan menurun.
Dalam konteks akuakultur, temuan ini menjadi peringatan dini. Budidaya ikan sangat bergantung pada performa larva dan juvenil.
Jika mikroplastik telah hadir dalam lingkungan budidaya, maka dampaknya mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk kematian massal, tetapi muncul dalam bentuk pertumbuhan lambat, efisiensi pakan menurun, serta ketahanan terhadap penyakit yang melemah. Dampak jangka panjangnya adalah penurunan produktivitas dan meningkatnya biaya produksi.
Salah satu aspek menarik dari penelitian modern adalah upaya memahami bagaimana polutan lingkungan dapat mengganggu sistem hormonal ikan. Hormon tidak hanya mengatur pertumbuhan, tetapi juga perilaku makan dan keseimbangan energi.
Dalam beberapa studi, gangguan pada jalur hormonal tertentu menyebabkan ikan makan secara berlebihan namun pertumbuhannya tidak optimal. Energi yang masuk lebih banyak disimpan sebagai lemak dibandingkan digunakan untuk pertumbuhan jaringan tubuh.
Fenomena ini relevan ketika dikaitkan dengan paparan mikroplastik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa partikel plastik dapat memicu stres oksidatif dan gangguan metabolisme.
Jika gangguan tersebut terjadi pada fase larva, maka efeknya dapat bertahan hingga fase dewasa. Artinya, dampak pencemaran lingkungan tidak hanya terjadi sesaat, tetapi dapat membentuk generasi ikan dengan kualitas pertumbuhan yang lebih rendah.
Implikasi terhadap keamanan pangan juga tidak dapat diabaikan. Mikroplastik telah ditemukan dalam berbagai organisme laut yang dikonsumsi manusia.
Walaupun efek langsung terhadap kesehatan manusia masih terus diteliti, keberadaan partikel asing dalam rantai makanan jelas menimbulkan kekhawatiran. Jika ikan budidaya yang kita konsumsi telah terpapar mikroplastik sejak fase larva, maka potensi akumulasi partikel tersebut perlu menjadi perhatian serius.
Di sisi lain, tantangan ini membuka peluang inovasi. Industri akuakultur dapat memanfaatkan temuan ilmiah untuk meningkatkan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan.
Teknologi filtrasi air, manajemen limbah plastik, serta desain sistem resirkulasi air yang lebih baik dapat menjadi solusi untuk mengurangi paparan mikroplastik dalam budidaya. Penelitian mengenai pakan juga dapat diarahkan untuk membantu ikan meningkatkan ketahanan terhadap stres lingkungan.
Peran kebijakan publik juga sangat penting. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan limbah yang lebih baik, serta edukasi masyarakat mengenai dampak pencemaran plastik perlu terus diperkuat. Tanpa perubahan perilaku di tingkat masyarakat, upaya ilmiah di laboratorium tidak akan cukup untuk mengatasi masalah yang semakin kompleks ini.
Akuakultur masa depan tidak hanya berbicara tentang peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Produksi ikan yang tinggi namun merusak lingkungan pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi industri itu sendiri. Oleh karena itu, pendekatan ilmiah yang mengintegrasikan aspek fisiologi ikan, perilaku, dan kualitas lingkungan menjadi kunci menuju akuakultur berkelanjutan.
Zebrafish, meskipun kecil dan tampak sederhana, memberikan gambaran besar tentang kondisi perairan kita. Perubahan kecil dalam perilaku larva dapat menjadi sinyal awal bahwa lingkungan sedang mengalami tekanan. Dengan memahami sinyal tersebut, kita memiliki kesempatan untuk bertindak sebelum dampak yang lebih besar terjadi.
Di tengah tantangan perubahan iklim, peningkatan kebutuhan pangan, dan tekanan terhadap sumber daya alam, pengelolaan lingkungan perairan menjadi semakin penting. Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen akuakultur dunia, namun potensi tersebut hanya dapat terwujud jika kualitas lingkungan tetap terjaga.
Krisis mikroplastik mungkin tidak terlihat dramatis seperti tumpahan minyak atau pencemaran limbah industri, tetapi dampaknya perlahan dan sistemik. Organisme kecil di perairan menjadi korban pertama, lalu efeknya merambat ke sistem yang lebih besar, termasuk manusia.
Oleh karena itu, investasi dalam penelitian, pendidikan lingkungan, serta kebijakan pengurangan plastik harus menjadi prioritas. Masa depan akuakultur dan ketahanan pangan perairan tidak hanya ditentukan oleh teknologi produksi, tetapi juga oleh bagaimana kita menjaga lingkungan tempat ikan hidup.
Pada akhirnya, mikroplastik mengajarkan kita satu hal penting: bahwa masalah besar sering bermula dari hal-hal kecil yang kita abaikan.
Jika partikel plastik mikroskopis saja mampu mengganggu keseimbangan kehidupan perairan, maka perubahan perilaku manusia dalam mengelola lingkungan menjadi kunci untuk mencegah krisis yang lebih besar.(HS/RD)
BACA JUGA: Daun Kapulaga: Bahan Alam Potensial untuk Meningkatkan Kesehatan dan Produktivitas Ikan Budidaya


